Hidupnya dari Tapian Nauli

Posted on 13 November 2008

22


Tapian Nauli, orang mengenalnya sebagai sebuah teluk di pantai barat Sumatera Utara. Bagi Khalis Tanjung (41), pedagang di Pasar Sibolga, Tapian Nauli bukan sekadar teluk. Perairan itu adalah gantungan hidupnya.

Sejak tahun 1986 saat dia masih lajang, pria empat anak ini mendirikan usaha ikan kering “Tersanjung” khas Sibolga. Tidak ada pekerjaan lain yang dia sukai selain dagang ikan. Dia yakin potensi dan peluang usaha di sektor ini besar.

Kamis (10/4) siang hari, dia ceritakan perjalanan usahanya sambil mereguk segelas sirup. Dia berangkat dari modal kecil. Lantaran itu, sering terlilit modal. Namun, kesulitan itu dia anggap sebagai pelajaran. Tidak sia-sia, toko ikan miliknya kini menjadi jujukan orang. Pegawai Pemerintah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah kerap menjadikan ikan olahan Khalis sebagai oleh-oleh khas Sibolga. Hal yang sama juga dilakukan pegawai perusahaan swasta nasional yang beroperasi di Sibolga dan Tapanuli Tengah.

Tidak hanya pasar dalam negeri, pekerja asing di Sibolga juga menyambangi tokonya. Ikan Tapian Nauli produk Khalis kini menembus pasar Malaysia, Dubai, dan China. “Tidak ada pembinaan, saya lakukan dari awal sendiri. Syukurlah semua bisa berjalan baik,” katanya. Saat dia bercerita, istrinya, Sarifah Pasaribu (38), sedang membungkus pesanan orang Medan yang dia kirim melalui darat. Hanya itu pola pemasaran yang dia lakukan saat ini, selain mengandalkan pembeli.

Toko Ikan “Tersanjung” seperti magnet di tengah pasar. Padahal, lapaknya sama dengan lapak lain di pasar itu, sempit dan agak kumal. Daya tarik ikan Khalis lebih besar.

Ikan asin talang, kakap, teter, dan teri olahannya memang gurih. Tidak ada rahasia, hanya bumbu, garam, dan mengandalkan pemanasan matahari Teluk Tapian Nauli. Usaha tak dilakukan sendirian. Puluhan nelayan menjadi pemasok rutin ikan mentah. Dia merekrut enam pegawai yang khusus bekerja mengolah ikan hingga siap dipasarkan. Semuanya dia jamin tanpa pengawet. “Pengolahan ikan ini tidak perlu memakai formalin,” katanya meyakinkan.

Berkah Tapian Nauli tak hanya dirasakan warga Sibolga. Ribuan warga Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah, ikut menikmati nikmatnya ikan perairan Tapian Nauli. Di desa itu sekitar 1.800 keluarga mengolah ikan rebus jenis asin.

Rahmat Sitompul (29), pengolah ikan rebus di desa itu, mulai merasakan usahanya kian ramai. Dia yang mengolah ikan jenis ogak atau panamas itu mempunyai pelanggan tetap di Padang Sidisimpuan, Mandailing Natal, Pekanbaru, Dumai, Duri, dan Nias. Bahkan, jika banjir ikan, dia dan pengolah ikan lainnya kerap melayani pasar di Jawa. (NDY)

Sumber : kompas

Posted in: pesisir, rupa-rupa