Kesenian Sikambang

Posted on 5 Maret 2009

15


sikambang

Sebelum membaca lebih lanjut silahkan nikmati LAGU SIKAMBANG ini.

Kesenian Sikambang secara umum mewakili seluruh kesenian yang berlaku bagi masyarakat Pesisir Pantai Barat Sumatera, mulai dari Meulaboh di Banda Aceh, terus ke Tapanuli, Minangkabau dan Bengkulu. Selain di Pantai Barat, Sikambang juga berlaku di Pantai Timur kepuluan Nias dan Pulau Telo. Kesenian Sikambang yang bagian pokoknya terdiri dari “tari” dan “nyanyi” (seni-tari), mengemban unsur kebudayaan bernafaskan seni budaya. Tidak heran jika Sikambang tetap eksis sejak zaman dahulu kala hingga sekarang pada zaman modernisasi. Kesenian ini mengemban falsafah-falsafah kontemporer yang sarat makna, bercorak petuah, berirama lagu dan berwujud tari. Sikambang bukanlah akulturasi yang terserap dari kebudayaan tetangga seperti Batak dan Minangkabau, tetapi kesenian warisan peradaban kerajaan pesisir, khususnya dari abad ketujuh masa kejayaan Jayadan dengan ratunya, Puteri Rundu

Seni budaya zaman dahulu seperti tari, lagu, pantun, randai dan talibun kehadirannya bak gayung bersambut dengan menunjuk kepribadiaannya dari masyarakat Pesisir yang memiliki perasaan halus dan tenggang rasa yang tinggi, sesuai dengan alam dan riak gelombang ombak gulung-menggulung saling ikut sama yang lain.

Nyanyian pesisir merupakan pantun-pantun bersahut-sahutan, berisi nasehat jelmaan perasaan, sindiran dan kasih saying menurut tradisinya. Alam pesisir menciptakannya sedemikian rupa, hingga begitu syahdu sampai-sampai para nelayan terlena dibuai. Riak ombak yang lemah gemulai dan sekali-sekali berombak besar, menjadikan gerak tarinya lemah gemulai atau tiba-tiba menyentak keras.

Pesisir memang kaya dengan lagu dan tari. Ada tari adok, tari kaprinyo, tari laying-layang, tari paying, tari perak, tari asam paya, tari anak dan lain sebagainya. Orang-orang yang bermukim (yang berasal) di Tapaktuan, Singkel, Sorkam, Barus, Singkuang, Muko-muko, Natal dan Pariaman merupakan masyarakat pendukung utama kelestarian Sikambang secara turun-menurun. Setelah adanya lagu Sikambang secara vocal maka para nelayan selalu menyatukan dengan memukul papan pinggiran perahu sebagai instrument. Pululan pinggiran perahu diiringi dengan siulan pengganti melodi dan memukul besi-besi yang ada di perahu sebagai gong untuk tempo. Terpadulah satu kesatuan bunyi alami antara instrument dan vocal di tengah lautan.

Lambat laun, para nelayan menciptakan gendang (gandan Sikambang) terbuat dari kayu bulat dengan nelayan belakang dilapisi kambing sedangkan bagian satu lagi dibiarkan kosing. Bagian yang kosong diganjal dengan kayu tipis diikat dengan rotan guan stem bunyi.

Pada abad ke-10 bersamaan dengan datangnya bangsa India ke Pesisir Pulau Moorshala dan Pulau Poncan, maka terciptalah sebuah gendang (gandang batapik) terbuat dari kayu bulat panjang yang dikosongkan di bagian tengah, panjang 40 cm dan lingkaran 20 cm dibalut dengan kulit kambing pada kedua sisi, yang diikat dengan rotan sehingga dapat dipukul dari dua sisi.

Setelah tercipta gandang batapik tercipta pula singkadau terbuat dari bamboo, panjang 25 cm dengan tujuh lobang di atas berjarak masing-masing lobang satu cm dan sebelah bawah terdapat satulobang. Lobang ini untuk keserasian suara.

Tercipta beberapa jenis alat musik, oleh para tokoh-tokoh kesenian Pesisir dibuatlah penggabungan bagi semua Sikambang : Gandang batapik, singkadu gong (canang), terbuat dari tembaga (carano) dipadukan dengan rehab (sekarang diganti dengan biola) serta harmonica (sekarang diganti accordion).

Secara keseluruhan nama-nama alat music Pesisir pada masa kini terkenal sebagai berikut :

  1. 1. Gandang Sikambang (membranphone single skin frame drums) berfungsi sebagai mat (tempo)
  2. 2. Gandang Batapik (double skin cylindrical drums) 1 mempunyai fungsi sebagai peningkah dari ritme gandang Sikambang.
  3. 3. Biola (chordophone macket box lutes) berfungsi sebagai pembawa melodi lagu.
  4. 4. Singkadu (aerophone) berfungsi sebagai pembawa melodi.
  5. 5. Carano (sejenis mangkuk, struck Indhiaphone) berfungsi sebagai penentu mat (tempo).

Kesenian Pesisir/music Pesisir pada umumnya tidak pernah dipergunakan pada upacara keagamaan dan penyembahan berhala, tetapi hanya untuk hiburan dan acara adat-istiadat; upacara perkawinan, upacara sunat Rasul (khitanan), penyambutan, penobatan, turun karai (turun tanah), menakalkan anak (mengayun anak), memasuki rumah baru, peresmian dan pertunjukan kesenian/pergelaran.

Masing-masing tari memiliki maksud-maksud tertentu.Misalnya tari sapu tangan dengan nyanyian kapri, menggambarkan kisah permulaan muda-mudi dalam mengikat persahabatan, perlambang keterbukaan dan etika sosial.

Tari payung dengan nyanyian Kapulo Pinang, menggambarkan kisah suami istri yang baru saja melangsungkan pernikahan (pengantin baru). Suatu hari ketika sang suami hendak meninggalkan istrinya untuk pergi berlayar mencari nafkah di negeri orang-dengan mempergunakan sebuah kapal pembawa dagangan dari Pulau Poncan ke Pinang-sang suami sempat menyampaikan kata-kata berisi ungkapan hati berupa syair-pantun :

Kok berlayar ka pulau penang

Ambil alunan si timur laut

Kok berlayar hati indak sanang

ai mato sepanjang laut

(Dengan sangat penat dan sedih suami meninggalkan istrinya tercinta, sampai-samapi air mata jatuh berlinang sepanjang lautan).

Maka si istri membalas pantun suaminya :

Pulau Penang airnya dare

Banyaklah batang lintang bulintang

Pulau penang dunianyo kareh

Banyaklah dagang pulau berutang

(Apabila nanti suami tela tiba di negeri orang, hati-hatilah membawa diri, karena dunia perdagangan Pulau Pinang sangat sibuk dan banyak sekali godaan yang dapat melupakan kampong halaman).

Nyanyian Sikambang (Sikambang botan) berbentuk pantun terdiri dari dua sampiran dan dua isi :

  1. Sayak pecah ketimba mandi

    talang rumah ketimban rahim

    Gabak pecah hujan tak jadi

    serak sumerai bunga angin

  2. Sudah berderai bunyi ketilang

    bunyi berderai lalu ke tapian

    Malam bagai rasa kehilangan

    siang bagai rasa kematina

Kedua sajak di atas sengaja diterjemahkan secara bebas ke dalam Bahasa Indonesia sekedar mempermudah pengertian pembaca. Aslinya tetap ada dalam bahasa Pesisir Tapanuli Tengah. Jika diperhatikan dengan seksama, betapa kuatnya makna dari kedua pantun. Jika diperhatikan dengan seksama, betapa kuatnya makna dari kedua pantun. Bait 3 dan 4 (pantun pertama) mengatakan, walaupun mendung telah pecah, tetapi hujan tidak jadi (turun) namun menjadikan angin sepoi-sepoi basah terasa sejuk dinikmati. Sedangkan bait tiga dan empat (pantun kedua) menceritakan kesedihan seseorang karena kehilangan seseorang yang dikasihi ‘malam bagai rasa kehilangan/siang bagai rasa kematian’ (sunyi atau sepi atau senyap atau hampa).

Pantun Sikambang kaya dengan kata-kata perbandingan berikut perumpamaan untuk menyampaikan hasrat hati. Ciri dialektikanya tidak langsung. Ada seseorang pemuda yang ditolak cintanya oleh seorang gadis, pantun semacam ini menjadi jawaban dari jeritan sepotong hati yang luka.

Bagaimana tari pesisir membahana menjadi tarian nasional ? Halini merupakan”transfer”akulturasi kebudayaan sekaligus suatu indikasi bahwa Sikambang dapat diterima sebagai khazanah Kebudayaan Bhineka Tunggal Ika. Tari sapu tangan misalnya. Hampir semua sentra tari di Indonesia mengenal dan memiliki tari satu ini. Inilah symbol tari kapri, lambang romantisme. Diceritakan dalam suatu perlehatan pernikahan. Pada acara perlehatan mempertunjukkan tari sapu tangan dipertontonkan oleh sekelompok ajuk-menganjuk akhirnya saling jatuh cinta. Simak pantun pada nyanyian berikut :

Ambil parang pemancung talang

Selasih berhurai daun

Habis daging tinggallah tulang

Kasih ditolak sampai belum

Air ditebang tebing runtuh

Selasih digenggam mati

Baju dan kain dipakai lusuh

Kasih ditolak dibawa mati.

Sumber : Bunga Rampai Tapian Nauli

Posted in: pesisir