Dampeng

Posted on 24 Mei 2012

1


Sewaktu mempelai berangkat ke rumah penganten, gendang pun ditabuh dan nyayian-nyanyian merdu diperdendangkan. Nyanyian ketiak memberangakan mempelai pria ini bernama dampeng. Inti syairnya seolah-olah meberi tahu kepada orang banyak bahwa dari rumah itu atau dari kampung sana sedang diberangkatkan seorang raja hendak pergi ke medan perang. Itulah sebabnya mempelai pria dilengkapi dengan pakaian kebesaran raja-raja dan sebilah keris terselip di pingggang. Raja berjalna ditudung dengan payung kuning dan dikawaloleh dua orang hulubalang.

Dengan dilepas keduaorang tua bersama sanak keluarga, maka lepaslah sudah tanggung jwaab orang tua terhadap si anak untuk memulai tangung jawab baru terhadap istri dan anak-anaknya di kemudain hari. Sepert yang dinasehatkan pada pantun dampeng berikut, agar pemuda yang berangkat dan menikah jangan melupakan kampung halaman.

Jip, jip talibun badrun..ya maulai…Au laai

adalah suatu masa

lima belas hari bulan purnama

murai berbunyi di tepi rimba

teringat hati nan celaka

masa negeri zaman Bandaharo

kampung nan belum ber ulando

Jip, jip talibun…ya maulai

burung nan dua sekandangan

bulunya sama kekuningan

sangkarnya sama se tuangan

di dunia tak daapt bandingan

di langit belum ditentukan

pulang maklum ke junjungan… ya maulai…Au laai

Sabana bananyo….

Menurut ketentuan adat istiadat, sebelum bertalibun lebih dahulu Janang menghidangkan keu-kue kepada rombongan kesenian yang akan menghibur malam hari. Kue-kue dihidangkan kepada rombongan kesenian yang akan menghibur malam hari. Kue-kue dihidangkan dalam abun. Pada umumnya bila abun sudah disodorkan, maka kuenya harus diambil dan dimakan. Yang mengambil kue diwajibkan meyanyikan talibun. Berarti, yang makan kue kering telahh berhutang budi kepada yang mempunyai hajat. Hutang tidak dapat dibayar dengan uang tetapi membayarnya dengan nyanyian talibun.

Berikut disajikan dua cuplikan talibun yang merupakan talibun pendahuluan :

Kain buruk di puncuak gunung

basah diuap-uapkan embun

air seteguk sudah terminum

keripik seiris di atas abun

abun teletak dengan gendang

terletak pula dengan biola

sudah berhutang kiranya hamba

sedikit saj sebabnya

jip, jip talibun….badrundun…ya maulai

Hendak dibayar dengan uang

tuan janang tidak terima

baik dibayar dengan talibun

biar selesai hutang bersama

dua kali ayam berkokok

genap ketiga haripun siang

kalau abun belum ditutup

hati kami belum senang

jip, jip talibun …maulai…

Selain jenis-jenis kesenian Sikambang yang dikemukan di atas masih banya lagi jenis-jenis Sikambang dalam bentuk tari dan nyanyian, seperti randai sinandong panjang, sinandongpendek, sampaya, sarene Aceh,kepayang, beledeng dan lain-lain.

Raja Janggi : raja dari Afrika
Sayak : tempurung
Gabak : embun mengandung titk-titik air
Serak-semuarai : bersera-serak
Tolan : sahabat
Galeta : sejenis botol (tempat air)
Jambu erang : sejenis jambu
Sikudidi : sejenis burung berkaki panjang hidup di tepi laut dan pemakan ikan
Pencalang : perahu besar berlayar tiga atau lebih dari tiga
Rada-radam : sejenis rumput tumbuh di air
Air rewang : sejenis rumput tumbuh di air
Cewang : Pikiran kusut tak menentu
Cindai : kain cindai, guntingan kain beledru (perca-perca) yang dijahit dijadikan kain
Ulando : Belanda
Jip,jip talibun : hanya sebagai kata tambahan yang tak mengandung arti. Digunakan untuk memulai menyesuaikan tempo lagu dengan lirik lagu.
Keripik : kue dari pisang yang diiris, kemudian dkeringkan dan digoreng.

Sumber : Bunga Rampai Tapian Nauli.

Ditandai: ,
Posted in: pesisir